Siap Melepas Papua?

Papua memanas. Konflik demi konflik terjadi saling bergantian di bumi cenderawasih itu. Mulai dari perang antar suku, konflik antar pendukung pilkada kepala daerah, masalah kesenjangan  Freeport dan penduduk lokal, masih bergeraknya organisasi makar OPM (Organisasi Papua Merdeka), sampai dengan konflik dengan Pemerintah Pusat tentang masalah kesejahteraan. Kejadian yang masih panas beberapa hari lalu adalah kasus penembakan Kapolsek Mulia, Puncak jaya oleh orang tak dikenal. Kini pihak berwajib masih memburu pelaku penembakan itu. Konfirmasi dari kepolisian, penembakan Kapolsek hingga tewas itu murni kejahatan biasa bukan tindakan makar.

Belum hilang dari ingatan kita tentang konflik PT Freeport yang tak pernah usai. Beberapa warga sipil yang merasa kesejahteraannya tidak dipenuhi pemerintah mengganggu Freeport dengan melepaskan tembakan kepada pegawai Freeport secara membabi buta sehingga korban berjatuhan. Kesenjangan antara Freeport dengan warga lokal menjadi masalah utama adanya kejadian ini. Disinyalir ada beberapa pihak yang tergabung dalam OPM (Organisasi Papua Merdeka) berusaha ikut memperkeruh suasana di Provinsi yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini itu.

Beberapa kejadian terakhir di Papua yang menyebabkan panasnya atmosfir keamanan disana harus diperhatikan dengan serius oleh pemerintah. Paling tidak ada beberapa kondisi, mengapa Papua saat ini memanas dan terjadi beberapa konflik horizontal. Beberapa hal yang harus menjadi perhatian pemerintah adalah:

  1. Kesenjangan sosial antara warga lokal dengan pendatang yang jauh dari kata makmur. Saat ini warga Papua masih belum bisa dikatakan sejahtera dan merdeka sepenuhnya karena pemerintah belum memerhatikan kehidupan warga miskin yang semakin bertambah di Papua.
  2. Perbedaan upah warga pribumi Papua sebagai buruh yang sangat sedikit.
  3. Perampokan kekayaan alam Papua seperti tambang emas dan sumber daya alam lainnya oleh orang-orang yang memikirkan kantong pribadinya sendiri. Sedangkan hasil pengerukan kekayaan alam tidak dikembalikan kepada rakyat. Freeport, seperti sebuah perusahaan Tambang emas kaya raya asal Amerika Serikat yang tak tersentuh oleh hegemoni hukum negeri ini. Dan itulah kesenjangan yang sangat kasat mata.
  4. Masih eksisnya Organiasi Papua Merdeka yang secara de facto merayap di bawah tanah. Beberapa kejadian yang merusak atmosfir keamanan di Papua juga disebabkan adanya campur tangan OPM.
  5. Desentralisasi gagal dari Pemerintah Pusat yang menyebabkan kesejahteraan rakyat Papua tidak sepenuhnya makmur. Tidak meratanya pembangunan di Papua dan anggaran yang selalu dikorupsi oleh pejabat-pejabat pemerintah daerah menyebabkan program desentralisasi gagal.
  6. Belum dewasanya wraga lokal ketika terjadi masalah kecil. Konflik dengan mengedapankan perang suku masih menjadi suatu adat yang belum bisa dihapus. Alhasil jika ada gesekan di lingkungan masyarakat tidak sedikit pasti terjadi perang antar suku sehingga Papua terlihat terus bergejolak. Hal ini juga terjadi ketika konflik antar pendukung kepala daerah yang bertarung dalam Pilkada.
  7. Tangan-tangan asing. Tidak dipungkiri Papua merupakan lahan seksi untuk menjadi daya tarik dalam segi ekonomi. Artinya pengerukan ekonomi atas kekayaan alam dan sumber daya alam yang masih terkandung di alam Papua. Oleh karena itu bukan mustahil jika Papua menjadi lirikan asing untuk menancapkan kepentingannya di provinsi ini. Kepentingan-kepentingan asing yang berpotensi memecah belah NKRI sehingga Papua bergejolak terus dengan negeri ini.

To be continued…

This entry was posted in Coretan Puisi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Siap Melepas Papua?

  1. Louyz Noya says:

    kalo menurut saya, kedepannnya pemerintah harus lebih arief dan lebih bijaksana lagi dalam mencermati dan mensikapi PAPUA… pada saat ini pemerintah malah menjadikan Polisi dan Tentara sebagai musuh utama orang-orang PAPUA… karena dengan dalih Makar (bendera bintang kejora) dan dalih-dalih pengamanan maka ribuan polisi+tentara dikirim ke Papua.. padahal sebenarnya yang terjadi di PAPUA adalah
    1.Rakyat Lapar
    2.Rakyat menjadi tambah bodoh, sedangkan para pejabat yang selama ini dibiayai dari uang-uang hasil PAPUA tambah kaya dan sejahtera.
    3.Papua Perlu Pembangunan (kalo perlu angkat menteri atau bentuk badan yg mengurusi PAPUA)
    4.Stop-stop-stop……… Perkosa Bumi Papua, karena yang menentukan nasib papua adalah orang papua… Bukan pejabat2 Jakarta yg hanya sekali seumur hidup ke Papua tapi uang dari Papua bisa untuk 7 turunan Pejabat jakarta

    Thank You & God Bless Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>