Mentari Tak Mungkin Bersinar Lagi

Tatapan matanya kosong. Raut wajahnya seminggu terakhir tak secerah dan seceria dulu lagi. Bahkan Nadia enggan keluar rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya. Dia sering mengurung diri di kamar, menatap langit-langit kamarnya tanpa seberkas harapan yang muncul dari sorotan matanya. Nadia tak ingin keluar rumah untuk menghirup udara pagi dan melihat sang mentari bersinar dengan terik bercahaya emas. Bagi dirinya, mentari tak mungkin bersinar lagi. Mentari sudah lupa bagaimana menyapa Nadia ketika bangun tidur hingga mengiringinya menjalankan aktifitas sehari-hari.

Gadis 20 tahun seperti Nadia tak bisa menahan beratnya beban yang dipikulnya. Sebuah beban yang tak semua orang dapat menjalani kehidupan seperti biasa. Nadia telah dinyatakan positif HIV. HIV atau singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah sebuah retrovirus yang menggerogoti sel sistem kekebalan tubuh manusia. Terutama Sel T CD4+ dan makrofaga, komponen vital dari sistem sistem kekebalan tubuh sel inangnya dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari virus inilah yang menyebabkan Nadia terlihat lesu dan tak bersemangat lagi. Hal ini dikarenakan pengurangan cepat dari sistem kekebalan tubuh yang menyebabkan kekurangan imun. Nadia merasa hidupnya telah terenggut oleh virus mematikan itu.

Nadia kini tampak selalu murung dan menyendiri. Dia tak percaya diri lagi ketika harus berkumpul dengan teman-teman kuliahnya. Terlebih ketika dia harus mempresentasikan karya tulisnya dihadapan dosen dan teman-temannya di kelas. Nada bicaranya datar, tanpa intonasi naik-turun. Gaya berdebatnya tak sekuat dulu ketika harus menjadi narasumber di acara seminar “AIDS dan penanggulangannya”. Semuanya berubah. Dirinya berubah 180 derajat dibandingkan Nadia yang dulu.

Pernah suatu ketika Mamanya memergoki Nadia sedang muntah di kamar mandi.

“Nadia kamu kenapa? Sakit?”

“Nggak ma, Cuma salah makan aja”

“Mama kerokin ya?”

“Nggak usah ma. Bentar lagi juga sembuh. Banyakin makan sama istirahat.”

“Tapi janji sama Mama ya. Nadia gak apa-apa?”

“Sip deh Ma”

Bahkan Nadia harus menyimpan rapat-rapat rahasianya dari kedua orang tuanya. Apalagi teman-temannya yang merasa kehilangan senyum menggoda seorang Nadia

Menurut pengalaman dan pengetahuannya, HIV adalah virus penyebab AIDS.

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>