Mau Dibawa Kemana Sepakbola Kita?

Kongres Luar Biasa Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (KLB PSSI) yang sudah dilakukan oleh Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI menghasilkan Ketua PSSI baru bernama Djohar Arifin Husein dan wakilnya Farid Rahman. Sebenarnya pemilihan Ketua PSSI periode 2011-2014 beberapa bulan lalu bukanlah sebuah kongres luar biasa namun hanya sebatas kongres pemilihan pemimpin baru PSSI. Sebelum adanya kongres luar biasa terlebih dahulu sudah diadakan 2 kali kongres. Kongres pertama ketika Nurdin Halid masih menjadi ketua PSSI yang sah. Saat itu Nurdin Halid mengagendakan pemilihan ketua PSSI di Pekanbaru Riau, namun kongres itu gagal dilaksanakan karena “digagalkan” oleh konflik internal PSSI itu sendiri. Padahal kongres belum sempat dilaksanakan.

Kongres kedua dilakukan oleh Agum Gumelar sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI yang secara sepihak ditunjuk oleh FIFA untuk menggantikan Nurdin Halid sementara waktu sampai terpilihnya ketua baru. Agum mengagendakan kongres PSSI di Jakarta. Lagi-lagi kongres gagal. Penyebabnya adalah tekanan-tekanan yang dilakukan oleh anggota PSSI terhadap Agum sehingga kondisi kongres tidak memungkinkan untuk dilanjutkan. Agum bersikeras mengetuk palu tanda kongres dihentikan meski banyak hujan interupsi. Keputusan Agum sudah bulat meski dibayangi suspend yang dijatuhkan oleh FIFA terhadap PSSI.

Publik bertanya-tanya ketika kongres-kongres PSSI itu gagal dilaksanakan. Pasalnya ketika kongres gagal maka risiko terbesarnya adalah Indonesia mendapat sanksi FIFA tidak boleh aktif dipersepakbolaan Internasional. Publik nasional sudah pesimis dengan PSSI dan konflik internalnya sehingga publik sudah rela jika Indonesia mendapatkan sanksi FIFA. Hal ini juga bisa digunakan sebagai momentum untuk membangun dan menata kembali persepakbolaan nasional yang tengah terpuruk ketika suspend benar-benar terjadi. Membangun dari dalam dan absen dulu dari kegiatan sepakbola internasional. Namun ditengah kepesimisan public sepakbola yang dibayang-bayangi pembekuan PSSI oleh FIFA, FIFA membuat keputusan yang mengejutkan dengan memberikan toleransi PSSI mengadakan kongres lanjutan atau kongres luar biasa. Artinya FIFA mengampuni dan memahami kondisi sepakbola nasional.

Solo, sebuah kota santun di Jawa Tengah dijadikan titik balik kebangkitan sepak bola nasional dengan kongres luar biasa yang akan diadakan oleh PSSI. Terdapat kubu baru yag menginginkan perubahan yang dimotori oleh Arifin Panigoro dan kubu incumbent dari Nirwan Bakrie. Kedua kubu ini memang sama-sama gila bola sehingga persaingan politis sangat tercium. Persamaannya adalah Nirwan Bakrie dan Arifin Panigoro tidak maju dalam pemilihan. Dan akhirnya kubu Arifin Panigoro lah yang memenangkan persaingan dengan mengangkat Djohar arifin Husein sebagai ketua dan Farid Rahman sebagai wakil ketua.

Anehnya, ditengah perjalanan pengurus PSSI yang baru ini menghasilkan kebijakan yang kontrovesial. Dimulai dari pemecatan Alfred Riedl sebagai pelatih Timnas yang berhasil membawa Timnas sampai Final d Piala AFF 2010, pembersihan orang-orang terdekat Nurdin Halid di tubuh PSSI, pengangkatan mayoritas pengurus dari Liga Primer Indonesia bentukan konsorsium Arifin Panigoro hingga keputusan kontroversial dengan memberikan tiket gratis 6 klub LPI masuk dalam kompetisi sepakbola nasional. Keputusan terakhir menjadi perdebatan public karena peserta kompetisi membludak sampai dengan 24 tim. Diyakini dengan 24 tim akan mengakibatkan pemain rentan cedera dan periode kompetisi lebih dari satu tahun.

Pengurus PSSI era Djohar sangatlah kental dengan konflik kepentingan. Alih-alih melakukan perubahan kualitas sepakbola menjadi lebih baik kini konflik di internal organisasi semakin meruncing dengan terbelahnya klub-klub tanah air menjadi dua kubu. Kubu yang tetap memilih di Liga Super Indonesia (LSI) dan Liga Prima Indonesia (LPI) bentukan pengurus baru PSSI. Kondisi Timnas yang menurun dengan jatuhnya ranking FIFA menambah daftar panjang keterpurukan itu.

Sepakbola memang rawan untuk dipolitisasi dan diperalat untuk pihak-pihak tertentu yang berkepentingan karena olahraga ini terbilang sangat favorit di negeri ini sehingga mempunya pendukung fanatik yang sangat besar. Kedewasaan dalam membangun sepakbola nasional bukan hanya dituntut bagi pemain, supporter dan klub saja namun juga pengurus organisasi sebesar PSSI. Jangan sampai sepakbola kita menjadi lahan konflik yang bisa menghancurkan antusiasme rakyat yang mempunyai sepakbola nasional. Perlu adanya pola pikir tulus dalam membangun sepakbola dengan menyingkirkan kepentingan-kepentingan baik pribadi maupun kelompok. Beban berat bukan hanya tanggungan pengurus PSSI saja namun seluruh elemen penggemar sepakbola harus memikirkan cara agar sepakbola Indonesia semakin maju. Saatnya menentukan arah, mau dibawa kemana sepakbola kita?

This entry was posted in Pojok Olahraga and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>