Cinta dan Merah Muda

            Tahun 2011 adalah tahun ke-83 sejak Sumpah Pemuda dikumandangkan di Waltervreden (sekarang Jakarta) saat Kongres Pemoeda. Adapun manfaat secara implisit tersembunyi dalam aliran nadi berbentuk semangat menggebu untuk membebaskan negeri ini dari jajahan asing. Terbukti ketika para pemuda turut andil dalam kemerdekaan bangsa ini pada tahun 1945. Pro kontra deklarasi kemerdekaan oleh Soekarno pada 17 agustus 1945 tidak lepas dari tokoh-tokoh muda yang ingin segera Indonesia merdeka. Sebelum Soekarno membaca teks proklamasi, beliau diamankan para pemuda ke Rengasdengklok. Seperti niat awal, para pemuda ingin Bung Karno segera memproklamirkan kemerdekaan dikarenakan Jepang sudah menyerah kepada tentara sekutu.

Dalam perkembangan selanjutnya, peran pemuda dalam membangun negeri ini sangat besar. Salah satu diantaranya adalah tumbangnya Orde Baru hasil dari bersatunya mahasiswa dan rakyat yang kecewa dengan kepemimpinan Pak Harto. Mahasiswa yang merefleksikan generasi muda membaur di jalanan sebagai aksi protes kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun yang dipenuhi dengan unsur-unsur korupsi dan nepotisme. Orang-orang birokrasi zaman Pak harto dengan leluasa merampok uang Negara dan orang-orang terdekatnya mayoritas mendapatkan jabatan di pemerintahan. Hal inilah yang menjadi factor utama ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Orde Baru.

Pemuda sebagai generasi penerus suatu bangsa memiliki peranan penting disegala kehidupan. Sebuah tim sepakbola tidak akan pernah bisa berkembang jika tidak memiliki pembinaan pemain muda usia dini. Secara alamiah pemain muda akan menggantikan senior-seniornya yang secara fisik sudah mulai menurun. Begitu juga dengan kondisi sebuah bangsa. Sebuah bangsa harus mempunyai pembinaan usia dini untuk membentuk generasi penerus yang kompeten untuk meneruskan estafet perjuangan dan cita-cita Negara. Peran pemuda yang berintegritas dan nasionalis akan menggantikan pengisi pemerintahan yang sudah mulai menua dan tidak poduktif. Begitulah setiap generasi selalu berputar dan generasi lain saling menggantikan generasi sebelumnya.

Nilai-nilai seperti cinta tanah air harus diterapkan dalam jiwa-jiwa para pemuda. Hal ini berfungsi untuk menumbuhkan rasa kesetiaan dan kecintaan terhadap negerinya sehingga merasa memiliki aliran darah yang jatuh di bumi pertiwi. Darah yang selalu merah membara menandakan semangat keberanian menghadapi tantangan global. Darah yang selalu mengalir di seluruh tubuh dan tiada berhenti bekerja. Darah muda yang bergejolak berapi-api dan selalu idealis dalam setiap pola pikirnya.

Delapan puluh tiga tahun yang lalu Soegondo Djojopoespito (PPPI) yang mengetuai kongres pemuda membacakan teks sumpah pemuda bersama para pemuda Indonesia. Berikut isi teks sumpah pemuda itu:

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Perpaduan antara tiga komponen cinta tanah air (Cinta), aliran darah semangat yang memerah membara (Merah) dan perkumpulan pemuda (Muda) telah menghasilkan sebuah petisi sumpah pemuda yang berfungsi membangun tembok-tembok kekuatan semangat perjuangan saat penjajahan. Dan dari semangat itulah seharusnya para pemuda generasi ini mengadopsi pola pikir maju untuk membangun bangsa ini. Sudah saatnya generasi muda kita membangun stereotype bahwa pemuda belum saatnya ikut andil membangun bangsa. Dengan kerja keras dan kerja cerdas generasi tua di negeri ini harus memberikan ruang gerak agar generasi muda bisa membuktikan apa saja yang mereka bisa lakukan.

Pada akhirnya jurang pemisah antar generasi muda dan generasi tua bisa dijembatani dengan sinergi dan saling mendukung antara keduanya. Kekuatan itu seharusnya yang kita bangun dengan menyingkirkan segala kepentingan pribadi maupun kelompok. Cinta, merah, dan muda harus diupayakan menjadi            semangat baru agar peristiwa sumpah pemuda tahun 1928 lalu tidak hanya menumpuk di buku-buku sejarah. Pertanyaanya, bisakah kita?

This entry was posted in Asyiknya Menulis and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>