Menelanjangi Kolonel Khadafy?

Memanasnya situasi Negara Libya di benua Afrika menyulut negara2 di dunia ikut campur tangan. Pemerintahan Kolonel Khadafi yang terus memborbardir pemberontak Libya medapat kecaman masyarakat dunia atas pembantaian hak warga sipil. Moammar Khadafy sebagai kepala pemerintahan yang sah Libya mendapat tekanan politik dari oposisi agar mengundurkan diri dari jabatannya. Tapi dengan kukuhnya Khadafy bertahan pendiriannya untuk menjadi penguasa Libya.

Demonstran dan oposisi yang sudah tidak percaya kepada kepemimpinan Khadafy selama lebih dari 40 tahun berkuasa telah menguasai beberapa kota di Libya. Salah satu diantaranya adalah kota Benghazi. Dengan bantuan tentara yang sudah tidak pro kepada Khadafi, demonstran menguasai Benghazi untuk menunjukkan kekuatan rakyat yang ingin menyuarakan pendapat mereka agar Khadafy menyudahi kekuasannya.

Krisis Politik yang terus menerus memanas di Libya seakan seperti meledaknya perang saudara di Negara pengekspor minyak itu. Oposisi versus pemerintahan yang diktator, salah satu rezim pemerintahan yang mampu bertahan lama bertahun-tahun berkuasa di Libya. Khadafy yang ngotot mempertahankan kekuasaannya seperti pemicu bom waktu adanya perang saudara di Libya. Khadafy yang merupakan mantan militer lebih condong meredam aksi demonstran dan oposisi dengan cara-cara militer. Yakni dengan pelanggaran hak-hak sipil dengan mengerahkan militer-militer bayaran dan Militer lokal yang masih loyal pada rezim Khadafy. Pengerahan tank-tank militer, tentara, pesawat militer dan agresi darat untuk menumpas pemberontak.

Hal inilah yang memicu amarah masyarakat dunia untuk mengecam aksi Khadafi dan tentaranya. Hanya karena ingin menunjukkan kharisma sebagai kepala negara, sang presiden yang telah lama duduk di kursi kekuasaan itu rela melakukan kejahatan kepada warga negaranya yang membangkang. Suara yang kontras dengan pemerintahannya akan digusur tak terkecuali pihak oposisi dan demonstran yang terdiri dari rakyat pro perubahan dan tentara Negara yang membelot membela rakyat. Kecaman dari beberapa Negara pun bermunculan akibat dari perusakan hak-hak sipil oleh penguasa Libya. Tak pelak kecaman pun muncul dari Negara-negara yang tergabung dalam liga arab dan timur tengah sendiri.

Atas insiden yang melibatkan pengkerdilan hak asasi di Libya ini Amerika serikat dan sekutunya berembug untuk mengintervensi keamanan di Libya. Ribuan pengungsi yang terusik keamanannnya terdiri dari warga negara Libya dan warga asing yang berada dekat wilayah konflik di Libya mengungsikan diri keluar dari Negara tersebut. Bentuk intervensi Negara asing ke negara minyak tersebut diantaranya adalah pelarangan terbang pesawat di langit Libya. Hal ini menyebabkan pasokan pangan dari Turki dan Negara timur tengah terhambat. Begitu juga sebaliknya, pasokan ekspor minyak Libya ke beberapa Negara di eropa dan asia juga mengalami pengurangan stok.

Kolonel Khadafi memang berbeda dengan Hosni Mubarak. Meski sama-sama mempunyai rezim dictator, Mubarak memilih mengundurkan diri dari jabatannya meski sebelumnya kukuh untuk mempertahankan kekuasaan. Sedangkan Khadafi memiliki gaya yang sedikit berbeda dengan Mubarak. Khadafy lebih belajar dari kasus Mubarak. Khadafy memilih menyewa merangkul militer dan menyewa tentara bayaran untuk menunjukkan dirinya masih mempunyai kuasa atas negeri Minyak di Negara Afrika itu. Dengan sedikit mempromosikan diri pada Negara barat untuk meraih simpati Negara barat agar rezimnya tetap didukung. Seperti yang kita tahu Khadafy merupakan pro barat dan Israel seperti rezim Hosni Mubarak Mesir.

Namun bentuk usahanya merangkul barat tidak serta merta sukses karena ulahnya sendiri yang merelakan rakyat Libya dilibas tentara Negara Libya. Hal inilah yang menyebabkan Negara-negara barat menjadikan alasan pembantaian pemberontak melanggar Hak asasi manusia, melecehkan hak-hak sipil. Lobby-lobby internasional Libya hanya menjadi kepentingan politis jangka pendek dan tidak mampu merayu hati Negara barat untuk mendukung kekuasaan Khadafy. Pupus sudah intrik politik Khadafy kepada Negara barat karea Negara barat beserta liga arab telah melarang pesawat terbang di langit negeri minyak itu. Hal ini dikarenakan Khadafy otoriter kepada hak sipil, dan pelarangan ini sebagai bentuk hukuman internasional agar Khadafy menghentikan kebrutalannya terhadap warganya sendiri.

Ketidaksukaan negara barat terhadap kebrutalan Khadafy pecah ketika pesawat militer Perancis memborbardir beberapa wilayah Libya seminggu setelah negara barat melaksanakan pelarangan pesawat-pesawat terbang di langit Libya. Beberapa negara sekutu juga bergabung dengan aksi Perancis seperti Amerika Serikat, Kanada, Italia dan negara sekutu lainnya. Alasan yang dipakai adalah serangan udara itu untuk menghentikan aksi kebrutalan Khadafy terhadap pemberontak dan oposisi. Khususnya dalam hal pelanggaran hak sipil. Anehnya, kasus serangan ke Libya ini mirip dengan Irak. Ketika Irak diklaim mempunyai senjata pemusnah massal, Irak dibom habis-habisan hingga tertangkapnya Saddam Husein yang telah dijatuhi hukuman mati. Padahal senjata pemusnah massal itu tak pernah terbukti sampai sekarang. Begitu juga dengan Libya, kebrutalan Kolonel Khadafy dijadikan alasan untuk menyerang negara lain melalui restu Perserikatan Bangsa-Bangsa. Persamaannya, Libya dan Irak sama-sama negara penghasil minyak dan penyuplai minyak cukup besar ke Negara-negara barat. Apakah ini bentuk imperialisasi modern? Atau bentuk formal negara sekutu untuk menelanjangi pemerintahan Kolonel Khadafy?

@Rawatengah, Galur

This entry was posted in Sentuhan Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>