Sepotong Surat untuk Mr. Nurdin Halid

Assalamualaikum wr. wb.

Bapak Nurdin Halid yang terhormat. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Perkenalkan saya adalah rakyat kecil yang rindu melihat bangsa ini tersenyum. Saya bukan simpatisan partai politik manapun. Saya bukan juga orang suruhan kelompok-kelompok yang sinis dengan PSSI. Saya hanyalah simpatisan Indonesia yang ingin bendera merah putih berkibar di penjuru dunia, Indonesia Raya berkumandang dengan bangga di setiap laga Tim Nasional Indonesia. Saya ingin mencintai bangsa ini apa adanya.

Mr. Nurdin, tentunya saya, anda, dan seluruh bangsa ini tidak ingin melihat bangsa ini menangis untuk kesekian kali. Saya rela bangsa ini terkena bencana alam karena itu adalah kuasa tuhan. Saya hanya bisa diam ketika uang rakyat dijarah para koruptor yang mengatasnamakan pejuang rakyat. Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika bangsa ini dilecehkan bangsa asing, entah itu pencaplokan wilayah, penghinaan kedaulatan dan martabat, penguasaan ekonomi rakyat oleh asing atau penjarahan secara implisit atas kekayaan alam negeri ini. Tapi satu permintaan saya kepada tuhan, jangan melaknat sepakbola nasional bangsa ini untuk berprestasi. Saya bukan pejabat yang bisa menentukan arah kebijakan bangsa ini. Yang saya bisa hanyalah menulis surat ini untuk anda karena saya rindu bangsa ini melupakan sejenak masalah-masalah itu untuk tersenyum lagi meski lewat umpan-umpan cantik sepakbola tanah air.

Mr. Nurdin, saya yakin anda ingin membanggakan bangsa ini meski hanya sepintas, sekali seumur hidup. Lihatlah bagaimana antusiasme bangsa ini pecah seketika ketika Timnas Indonesia berjuang di Piala AFF 2010 kemarin. Nasionalisme pecah, tak peduli supporter Bonek, Viking, The Jack, ataupun Aremania dan supporter lainnya melupakan perbedaan hanya untuk mendukung Timnas. Meski sehari-hari mereka bermusuhan tapi hari itu, saat itu mereka membaur seolah mereka lupa kalau saling menjadi musuh bebuyutan. Tak ada warna hijau, biru, kuning dan orange, yang ada hanyalah warna merah dan putih. Warna darah dan tulang bangsa ini mister. Apakah anda juga merasakannya?

Saya juga tahu di ujung timur sana pengungsi banjir bandang di wasior bersorak sorai ketika Bambang Pamungkas, Gonzales atau Irfan Bachdim mencetak gol. Mereka melupakan bencana yang melanda meski hanya sementara. Apakah anda juga tahu di ujung barat Indonesia, pengungsi bencana tsunami Mentawai melonjak kegirangan ketika Oktovianus Maniani bermain dengan cantik mengolah bola? Firman Utina dengan umpan tendangan yang manis untuk memanjakan striker Timnas Indonesia? Mereka lupa kalau mereka itu adalah pengungsi. Sanak saudaranya banyak yang mati. Harta benda mereka tergerus oleh air laut. Hanya dengan pakaian yang melekat saja mereka bisa berjingkrak-jingkrak melihat tarian Achmad Bustomi di lapangan. Lalu bagaimana dengan korban letusan Gunung Merapi di Jogjakarta? Tak jauh beda, meskipun desa dan rumah mereka hancur terlindas wedhus gembel merapi namun mereka tetap berteriak bangga dengan bangsa ini saat M.Nasuha menjaga daerah pertahanan atau Hamka Hamzah yang menyapu bola dan membuangnya jauh-jauh ke arah daerah lawan. Dan saya pun hanya bisa menepuk dada dengan ketabahan saudara kita di tengah bencana yang menghalau selama ini.

Mr. Nurdin Halid yang terhormat. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada anda saat ini. Saya juga merasa bangga dengan anda. Bahkan seluruh bangsa Indonesia akan menepuk dada dan hormat dengan Mr. Nurdin. Masa kerja anda selama hampir delapan tahun ini rasanya sudah cukup untuk mengukirkan nama anda di MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai ketua umum PSSI. Kami bangga kepada anda asalkan anda bersedia dengan lapang dada melepaskan semua predikat jabatan anda sebagai ketua umum PSSI tahun ini. Kami akan merasa tersanjung jika anda jantan meninggalkan PSSI. Anda akan menjadi pahlawan sepakbola Indonesia bila mengundurkan diri dari pencalonan ketua umum PSSI periode 2011-2014 mendatang. Kami akan menyebut anda pejuang reformasi jika bersedia mundur saat ini. Saya dan seluruh bangsa ini berharap Mr. Nurdin Halid tidak serakah terhadap jabatan di PSSI. Percayalah, kami akan tetap mendukung anda jika rela meninggalkan PSSI. Kami acungkan dua jempol kepada anda jika berani dan tegas menyerahkan jabatan Ketua Umum kepada penerus anda yang lebih muda dan profesional ingin membangun sepakbola tanah air dengan baik. Saya yakin Allah Ta’ala akan memberi ganjaran karena anda membuat rakyat tanah air tersenyum untuk mempunyai harapan terhadap Timnas Indonesia jika anda mundur.

Terlepas dari politisasi PSSI, masalah internal PSSI, Isu Korupsi dan penyuapan di PSSI ataupun gila jabatan menjadi pejabat teras PSSI, kami mendukung anda jika anda bersedia mengundurkan diri dari pencalonan. Saya berharap anda tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini untuk menghapus track record buruk anda selama memimpin PSSI. Anda akan disanjung, dipuja, dan dianggap sebagai pahlawan jika menjadi komentator di luar PSSI. Percayalah mister, kami bangga dengan anda jika anda mundur dari PSSI. Jangan nodai kebanggaan kami yang satu ini, prestasi sepakbola nasional. Kami ingin gelar itu kembali.

Mr. Nurdin Halid yang saya banggakan jika berani mencoba langkah yang mungkin pahit bagi anda yakni mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI dan pencalonan periode mendatang. Kami berterima kasih dan mengucap standing applause atas pengabdian anda. Cukup sudah bangsa ini merasakan pengabdian anda. Yang pasti bukan berarti kami membenci anda, namun kami hanya ingin membandingkan pengabdian anda dengan pengabdian ketua umum baru. Siapa tahu karena pengabdian anda sebelumnya menjadi inspirasi ketua umum PSSI baru. Saya harap akan ada perubahan nantinya. Kalau anda sudah berada di luar PSSI bolehlah anda mengklaim prestasi nasional nantinya jika Timnas berprestasi pada periode ketua baru.

Mr. Nurdin Halid yang terhormat. Tiada kata yang indah selain perasaan bangga kepada anda jika anda mundur. Saya dan seluruh bangsa indonesia sangat berharap. Saya yakin anda membuka hati dan bergetar hati anda membaca surat ini. Saya harap anda mengerti dan merasakan kebanggaan kami kepada anda dan sepakbola Indonesia. Pak Nurdin, bangsa ini mencintai anda dengan segala harapan. Bangsa ini menginginkan anda berprestasi di luar PSSI. Biarkan PSSI berkembang dengan kepemimpinan yang baru karena syarat berkembangnya organisasi adalah adanya regenerasi yang sehat.

Demikian surat ini saya tulis dari lubuk hati terdalam. Tak ada unsur paksaan dari pihak manapun untuk menulis surat ini. Semata-mata hanya ingin menyelamatkan karakter Mr. Nurdin Halid yang selama ini dianggap buruk oleh supporter nasional. Harapan saya dengan mengundurkan diri dari PSSI tahun ini citra buruk anda semakin terhapus menjadi citra yang baik di mata supporter. Saya tidak bisa memberi apa-apa kepada anda kecuali untaian do’a agar sekiranya kehidupan mister lebih baik ketika keluar dari PSSI. Mister akan merasakan bagaimana dihormati oleh seluruh insan sepakbola tanah air. Saya sangat berharap kepada Mr. Nurdin Halid. Please… Mohon maaf jika ada salah kata yang membuat hati tidak berkenan. Kesalahan hanya ada pada diri saya dan jika ada kebaikan itu murni dari Allah Ta’ala. God Bless You.

Wassalamualaikum. wr.wb.

Jakarta, 28 Januari 2011

Ttd.

Pecinta Sepakbola Indonesia

This entry was posted in Pojok Olahraga and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>