Menteri Kesehatan Kok ”Sakit” ?

Masih ingat dengan Ibu Nila Djuwita Moeloek? Ya, seorang dokter ahli mata yang gagal menjadi Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu Periode II. Saat itu beliau memang sudah menjalani tes kesehatan sebagai syarat menjadi pejabat negara untuk membantu tugas presiden terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono. Namun di detik-detik terakhir pengumuman susunan kabinet KIB II perjuangan beliau kandas. Ibu Nila divonis “sakit” oleh tim dokter dan presiden. Saat itulah Cap calon Menteri Kesehatan dijegal oleh kata-kata “sakit”

Posisi Menteri Kesehatan akhirnya digantikan oleh Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih, yang secara mengejutkan menjadi nominasi terakhir yang dipilih presiden. Dengan menjalani “sekedar” pemerikasaan medis tak seketat check-up kesehatan seperti calon menteri lainnya, Ibu Endang dengan mulusnya menuju kursi menteri. Padahal saat itu pemeriksaan kesehatan menyatakan bahwa kesehatan beliau perlu “special treatment” dalam beberapa hal terkait kesehatannya.

Akhirnya kasus itu terkuak setelah setahun lebih. Awal tahun 2011 Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih menderita kanker paru-paru. Kok bisa? Seorang menteri yang pada awal menjadi calon menjalani tes kesehatan sekaliber dokter kenegaraan dinyatakan “sakit” dikemudian hari. Padahal sebelum menjadi menteri dinyatakan sehat oleh dokter-dokter penguji. Apakah dokter-dokter itu semua bodoh? Atau ada intervensi presiden dalam kasus ini dan mencekoki media dengan kebohongan publik? Lantas mengapa Ibu Nila Djuwita Moeloek dinyatakan “sakit” pada saat itu? Padahal sebenarnya track record kesehatan Ibu Nila tidak sakit?

Masyarakat tidak bisa menyalahkan presiden atas manuver pemilihan Menteri Kesehatan KIB jilid II. Meskipun Ibu Nila sekuat tenaga menyatakan bahwa beliau sehat, toh yang dipilih presiden menjadi Menteri Kesehatan adalah Ibu Endang. Presiden mempunyai hak prerogratif siapa saja yang berhak dipilihnya untuk menjadi pendamping presiden. Menteri adalah pembantu presiden, dan sudah selayaknya presiden memilih siapa yang dipercaya presiden untuk membantu tugas-tugas kepresidenan dalam hal ini kementerian.

Kasus tidak selesai sampai disini. Pertanyaannya mengapa pemerintah memaksakan kehendak mengangkat Ibu Endang Rahayu menjadi Menkes yang pada saat itu divonis “sakit” meski sakitnya tak ter-expose media? Adakah upaya untuk menutup-nutupi kasus ini agar tak menjadi bahan obrolan orang-orang di warung kopi? Ataukah ada kepentingan asing yang disusupkan kepada Menkes baru yang pro proyek Namru Amerika Serikat itu? Dan akhirnya dengan segala pemaksaan kehendak, memaksakan opini “Siapa saja boleh menjadi Menteri, Asalkan…”.

Ironis sekali jika asal comot mendekati detik-detik terakhir, asalkan kepentingan asing bisa masuk dalam kebijakan pemerintah. Serendah itukah pemerintah dimata kepentingan asing? Menjual hak-hak rakyat hanya demi merebut hati tangan-tangan asing.

Stop ! Sekali lagi rakyat tak berhak berkomentar banyak karena ini adalah Prerogratif presiden. Tapi dengan terdeteksinya penyakit Ibu Endang Rahayu sebagai Menteri Kesehatan yang terkena Kanker Paru-paru membuka mata kita lebar-lebar bahwasanya ada intrik-intrik yang ditutup-tutupi selama ini. Entah itu terlepas dari kehebatan Menteri Kesehatan KIB Jilid I yang terkenal tegas, Ibu Siti Fadhilah Supari, atau tak logisnya vonis penyakit dari calon Menkes Ibu Nila Djuwita Moeloek, dan ataupun hak prerogratif presiden dalam memilih menteri-menterinya yang pasti “Country is Politic”. Terlepas dari sakitnya seseorang, Allah yangmaha memberi sakit dan obatnya. Manusia tak pernah tahu.

Politisasi boleh-boleh saja asalkan tidak merugikan rakyat dan demi kepentingan rakyat. Politisasi itu bukan bohong, karena akan mencoreng citra politisi dengan sebutan pembohong. Menilik kisah kursi Menteri Kesehatan zaman Kabinet Indonesia Bersatu Jilid I maupun II memang jadi rebutan politik. Karena kesehatan adalah posisi yang srategis bagi bangsa ini. Apakah terkait APBN yang dianggarkan atau kepentingan elit-elit politik yang ikut masuk dalam ranah kesehatan kita pun tak pernah tahu. Siapa yang tidak mau sehat?

This entry was posted in Sentuhan Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>