Kala Presiden Digoda Lebah (Penggoda)

Presiden juga seorang manusia. Ketika ada suara-suara yang mengusik dirinya ataupun dunia disekitar lingkungan hidupnya niscaya presiden akan merasa terusik dan tidak nyaman. Dengan segala upaya dan usaha sang presiden pun ingin menghilangkan atau paling tidak mengurangi suara berisik dan bising yang bisa memekakkan telinganya itu. Terlebih akan mengganggu kenyenyakan tidur  yang semakin menipis jatah untuk tidur karena agenda-agenda kepresidenan.

Tak ubahnya suara lebah yang meraung-raung seperti suara sirene pemadam kebakaran atau sirine ambulance yang tak kenal waktu dan tempat. Asal ada kesempatan untuk meraung, suara-suara mereka membisikkan telinga. Tidak saja berisik, terlebih seekor lebah bisa juga menyerang dengan sengatan yang bisa membuat bengkak tubuh sang presiden. Gara-gara bengkak dan suara lebah yang memekakkan telinga itupun sang presiden bisa mengalami penyakit-penyakit turunan dari seekor lebih. Hanya seekor lebah, bagaimana kalau banyak lebah?

Analogi itu seperti keadaan sang presiden di republik ini sekarang. Ketika hak-hak rakyat yang tereliminasi dan tak terpenuhi, janji-janji kampanye tak kunjung dilunasi, sang presiden mangkir dari kebijakan yang pro-rakyat, lebah-lebah mulai bersuara dan unjuk gigi mencap ketidakpuasan atas kinerja presiden dan jajaran pemerintahannya. Lebah-lebah itu ingin memekikkan suara ditelinga presiden. Lebah-lebah itu ingin menggoda presiden sesekali dengan sengatan yang tidak cukup menyakitkan.

Salah satunya adalah ketika forum lintas agama berkumpul dan bersatu menyuarakan ketidakpuasan mereka atas kebohongan yang dilakukan pemerintah saat ini dengan bermacam kebijakan gagal pemerintah yang dimodifikasi menjadi keberhasilan. Forum lintas agama yang menentang kebohongan rezim Yudhoyono menjalankan pemerintahan di negeri ini dengan menutup-nutupi kegagalan dengan politik pencitraan. Bahkan tak hanya forum lintas agama, tokoh-tokoh nasional yang merasa dibohongi oleh pemerintah pun ikut turun gunung mendukung keputusan yang dihasilkan forum lintas agama.

Rakyat bukan lagi kecewa tapi sudah merasa muak dibohongi terus menerus oleh pemerintah. Klaim ekonomi negara sudah mengalami pertumbuhan tidak sesuai dengan fakta riil di lapangan bahwa masih banyak rakyat miskin, kelaparan, dan pengangguran. Hukum yang tercoreng oleh ulah para mafia, pemberantasan korupsi yang tebang pilih, aksi teatrikal yang diperagakan orang-orang di sekitar Yudhoyono sebagai pencitraan publik dan kebohongan janji-janji saat kampanye yang tak kunjung terwujud menjadi salah satu alasan rakyat untuk menggugat presiden. Belum juga mewujudkan kemakmuran dan kenyamanan hidup bagi rakyat, sudah berhembus kebijakan membahas pemenangan pemilu 2014. Sungguh tatanan yang aneh. Rakyat terus dibohongi untuk pencitraan politik.

Lebah-lebah yang sudah gerah ingin memberikan efek gangguan ditelinga presiden dengan suara-suara berisik yang mereka hasilkan. Berharap bisa menyengat juga agar presiden tidak hanya beretorika dengan pemerintahan, namun mendengarkan keluhan-keluhan mereka atas ketidakpuasan rakyat dengan pencapaian presiden. Kebijakan yang perlu diatur ulang agar bisa memakmurkan hidup rakyat dan tidak memakmurkan kehidupan asing. Lebah-lebah itu sekali lagi ingin unjuk gigi bahwa mereka masih punya sengatan. Mereka ingin menjukkan meski tubuhnya kecil tapi suara dan efek sengatan mampu mengejutkan presiden dari tempat tidurnya.

Digoda, bukan dikudeta. Presiden yang terus menerus digoda seakan-akan sudah ciut seolah-olah dirinya akan dikudeta. Masak lebah mengkudeta presiden? Bisa jadi. Satu lebah tak berpengaruh. Tapi bagaimana jika lebahnya sangat banyak? Bukankah sengatan-sengatannya bisa mematikan? Dan hal itulah yang membuat presiden beranjak dari tempat tidurnya.

Wacana itu masih jauh karena perlemen pendukun presiden masih kuat. Tapi bukan jaminan karena beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi menggolkan undang-undang tentang pemakzulan presiden. Mengubah aturan pemakzulan presiden dari 75% suara parleman menjadi 50%+1 dalam parlemen. Jadi peluang untuk pemakzulan fifty-fifty. Tidak heran jika presiden merisaukan hal itu dan merangkul lebah-lebah agar tidak menyengat dirinya. Tapi memanfaatkan lebah-lebah penggoda untuk menghasilkan madu.

Hukum alamnya, lebah tak akan menggoda jika tak diusik haknya. Jika sang presiden mampu melindungi sarang lebah, membuat lebah nyaman dalam kehidupannya, menjamin keselamatan lingkungan sarang lebah, mampu mengembangkan lebah untuk menghasilkan madu yang manis dan berguna, niscaya lebah tak akan mengganggu. Lebah akan konsentrasi menghasilkan madu. Toh madunya juga untuk presiden.

Kenyatannya, lebah-lebah pengganggu yang merasa diganggu itu dibohongi oleh presiden. Lebah-lebah itu tidak puas akan kinerja presiden. Lebah-lebah ingin menyuarakan bahwa presiden tidak menjamin kehidupan lebah-lebah itu. Presiden ingkar janji tatkala hanya memikirkan kerajaan dan prajuritnya sendiri serta hanya memeras lebah-lebah untuk menghasilkan madu. Apakah salah jika rakyat menjelma menjadi lebah-lebah pengganggu yang ingin menyengat presiden? Paling tidak mengusik tidur presiden agar harapan rakyat terpenuhi pemerintah. Kalau sarang lebah diusik, masihkan bisa menghasilkan madu? Bisa jadi lebah-lebah marah dan menyengat presiden.

This entry was posted in Sentuhan Politik and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>