Andai Aku Gayus !

Siapa tidak tahu Gayus? Yang pasti bukan Gayus Lumbuun dari Fraksi PDI Perjuangan yang juga anggota Badan Kehormatan DPR RI. Kalau Gayus yang ini beda lagi. Gayus ini telah menggemparkan seantero negeri indonesia raya, paling tidak setahun belakangan ini. Dimulai dengan kicauan dari Mantan Bareskrim Susno Duadji yang merasa kalah diadu dengan Cicak KPK, Susno membongkar rekayasa Mafia Pajak yang tokoh utamanya adalah Gayus Tambunan. Sebenarnya Gayus bukan tokoh utama, namun “dijadikan” tokoh utama oleh Media dan pihak-pihak tertentu yang tidak ingin jati diri mereka terungkap ke publik.

Belakangan Kasus Gayus Tambunan menghebohkan negeri ini kembali. Dengan status gayus yang menjadi tahanan LP Brimob Kelapa Dua Depok, Dia bisa jalan-jalan ke Bali menonton pertandingan Tenis. Sebenarnya gak heboh-heboh banget kalo tidak tertangkap kamera Agus Susanto, Kontributor berita olahraga Media Kompas. Lagi-lagi gara-gara media kasus ini pun menjadi topik hangat untuk nasional yang menarik diperbincangkan. Seluruh elemen negeri ini kebakaran jenggot. Tak tanggung-tanggung, bahkan Presiden kita tercinta Pak Beye pun ikut bicara soal “jalan-jalannya” gayus ke Bali. Terlebih hal ini merupakan tamparan keras bagi institusi bernama POLRI yang berganti Kapolri baru Oktober lalu.

Berminggu-minggu wajah Gayus Tambunan menghiasi layar kaca kita seperti artis sinetron. Siapa tak kenal gayus Tambunan sekarang? Seluruh Indonesia saya yakin mengenalnya kecuali bagi rakyat kita yang tidak memiliki televisi. Bisa jadi Para Bule juga mengenal sosok fenomenal tahun 2010 ini melalui siaran televisi di negara mereka masing-masing.

Borok negeri ini sudah mengelupas satu persatu seakan-akan berubah menjadi bangkai. Bayangkan saja Kepala Rutan Brimob Kelapa Dua beserta jajarannya bisa juga kena Suap. Padahal Rutan ini termasuk Rutan yang sangat ketat sekali pengamanannya. Sudah berapa ratus juta uang panas mengalir di dalam Rutan ini kalau Gayus saja bisa nonton Tenis di Bali? Bahkan tersiar kabar pula Gayus hanya “ikut-ikutan” tahanan lain seperti Susno Duadji dan Aulia Pohan yang sering langganan keluar jalan-jalan di luar penjara. Negeri yang aneh.

Negeri ini indah. Negeri ini kaya. Tapi kebanyakan di dalamnya hidup dan tumbuh beranak-pinak para mafia. Apakah salah jika saya menyebut negeri ini sebagai komunitas Para Mafia? Negeri Para Mafia? Atau Surga Bagi Para Mafia? Tapi tidak semua penghuni negeri ini adalah para Mafia, paling tidak ya saya ini sebagai rakyat jelata yang hanya hidup sedanyan saja.

Kalau kamu jadi Gayus, Kamu gimana? Lah kok tanyanya ke saya? Sudah saya bilang saya bukan Gayus. Tapi apa salahnya jika saya jawab saja pertanyaan itu. Mudah saja. Jika saya jadi Gayus Tambunan ikuti alur saja. Kalau disidang pengadilan ya ikut-ikut saja. Toh pengacara saya Adnan Buyung Nasution orang hebat gitu loh. Penasihat Presiden pula. Semua bisa diandalkan. Tinggal suruh bicara dikit saja Pengacara saya pasti akan memberikan sedikit “sekak mat” pada pengadilan yang terhormat. Boleh di deal dengan mereka, karena pengacara saya orang hebat. Ujung-ujungnya kan ada pengurangan hukuman dari pengadilan terhadap saya?

Saya bisa berdalih saya ini korban bukan mafia sesungguhnya. Saya adalah gayus yang menjadi korban elite politik yang mempunyai kepentingan dalam usaha penggelapan Pajak. Mana mungkin saya yang hanya PNS Dirjen Pajak golongan 3A bisa menjadi orang terkuat dan terhebat dalam mengatur aliran duit panas negara bermilyar-milyar? Pasti ada backingan saya dong? Masak pura-pura gak tahu sih? Hahaha…

Kalau sudah saya rekayasa kasusnya seperti itu dan saya berpura-pura menjadi orang yang terdzolimi kan bisa jadi hukuman saya berkurang. Bolehlah kalo cuma 3-4 tahun mendekam di “gubuk derita”. 3-4 tahun kan belum termasuk masa remisi Kemerdekaan, Idul Adha, Idul Fitri, Tahun baru, Natal dan banyak yang lainnya. Tinggal pura-pura berkelakuan baik saja kan? Hitung tuh berapa sisa tahun saya di penjara? Pasti bisa dihitung dengan jari.

Seperti yang saya tadi bilang, saya didzolimi. Dengan cara akal bulus Gayus yang saya punya, saya kan bisa minta pemerintah mengembalikan nama baik saya. Dengan sedikit cuap-cuap meninjau ulang keputusan pengadilan terhadap saya dan dengan sedikit bantuan permak media-media yang bisa saya setir, saya akan menuntut pengembalian nama baik saya yang tercemar setelah saya keluar dari penjara. Mungkin orang sudah agak lupa dengan kejadian beberapa tahun yang sempat menghebohkan karena tahun-tahun setelah saya bebas kan kasus saya alias gayus tidak menjadi headline lagi. Hohoho.

Pas sekali ya, saya keluar beberapa saat sebelum pemilu 2014. Kalau rencana pertama saya tembus sehingga nama baik saya kembali dan provokasi lewat media kalau saya tidak bersalah dan dulu saya adalah orang yang terdzolimi. Apa yang tidak bisa saya lakukan? Kan ente pada yang nyebut saya Mafia. Sekarang saya benar-benar Mafia karena menyerap ilmu mafia tatkala di penjara. Kebetualn juga dulu pas tenar-tenarnya kasus saya saat menjadi Mafia Pajak seperti dituduhkan Pak Susno, saya anggap saja itu iklan Gratis. Toh seluruh rakyat ini jadi mengenal sosok saya kan? Meski pada saat itu citra saya buruk, kan setelah saya bebas saya membalikkan fakta. Supaya nama baik saya tenar lagi menjadi orang yang bercitra baik.

Sebagai warga negara yang baik boleh dong saya ikut pemilu 2014? Tinggal bikin partai apa susahnya? Lha wong duit saya banyak. Ente semua kan gak tahu uang saya yang di luar negeri ada berapa? Yang dibesar-besarkan media dulu itu uang saya yang di dalam negeri. Belum di luar negeri. Nah kan dengan hasil uang haram saya saya bisa bikin partai. Dengan sedikit polesan konsultan pemilu saya bikin partai dan saya yang jadi ketua umumnya. Dengan duit saya yang tidak sedikit saya iklankan tuh partai saya besar-besaran. Pura-puranya saya bikin partai karena dulu didzolimi dan ingin mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang diperhitungkan oleh bangsa di dunia. Gembor-gembor dikit bolehlah. Saya hiasi media-media di televisi dengan iklan partai saya dengan sugesti yang penuh warna. Mudah kan?

Nah, ini yang terakhir. Kalau partai saya menang kan saya bisa mencalonkan jadi presiden. Hahaha. Sejarah akan mencatat saya sebagai Mafia Pajak yang terdzolimi menjadi seorang Presiden RI. Dengan uang, apa yang tidak bisa saya ubah? Menjadi Presiden Mafia di negeri para Mafia. Padahal sebenarnya yang kalian sebut Mafia itu adalah saya, Gayus Tambunan. Namun sayang sekali saya bukan Gayus. Saya bukan juga Mafia. Saya hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa. Kalau ditanya lagi bagaimanasendainya anda jadi Gayus? Maka akan saya jawab Hahahaha.

(Tulisan saya persembahkan untuk negeri tercinta, Indonesia. Supaya negeri ini tidak dipimpin oleh Para Mafia yang bertopeng menjadi malaikat. Bukan untuk menghina tapi hanya untuk refleksi saja. So, Saya tetap membukd dada dan say I Love You, Negeriku Tercinta)

By : ochidusyifer 24 November 2010

This entry was posted in Sentuhan Politik and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>