Kisah Cintaku

“Ya Allah sadarkanlah aku, kenapa aku selalu berharap terus dia menjadi milikku. Dia sudah bertunangan ya Allah. Tapi kenapa hati ini tidak rela jika dia jauh dari hatiku. Perasaanku bergetar dengan sungguh jika selalu di dekatnya. Apa yang harus aku lakukan ya Allah. Aku tak berani mengatakannya, karena aku seorang wanita yang lemah. Dan andai itu aku lakukan, aku akan membuatnya bimbang dan aku telah mendholimi saudaraku sesama muslimah nan jauh disana. Aku…”

“Baca dong sms nya,” tiba-tiba nada dering hape nya membuyarkan konsentrasi muhasabah Cinta. Semula saat dia berdua dengan tuhan terpecah dengan suara nada dering itu. Dibereskannya peralatan ibadahnya kemudian dia bangkit mengambil hape yang tergeletak di atas meja.

One message from Zul ‘say’. 25-05-09 03:47

“Assalamualaikum. Cinta, Bulan depan ada Olimpiade Perekonomian Perusahaan di Unpad. Hadiahnya lumayan lho, kira-kira kamu mau ikut gak. Ntar rencananya aku juga mau ngajak Ilham kalau mau. Bagaimana? kita ketemu nanti sore ya di gedung Rektorat. Aku sama Ilham.” -Zulfikar-

“Ya Allah, kenapa selalu tiba-tiba. Baru sekian detik yang lalu aku mengadu kepada engkau atas perasaanku ini. Dan isi sms itu semakin membuatku tersipu ya Rabb. Apakah ini jalan yang engkau pilihkan padaku?” Ungkap Cinta lirih dalam hatinya.

“Insya allah,” Cinta membalas sms dari Zul.

Campur aduk perasaan Cinta terhadap Zul dengan sms itu. Ingin tidak dibaca merasa salah. Dibaca membuat getaran rasa yang dimiliki Cinta mencuat lagi. Bahkan melakukan atau tidak melakukan keduanya, tidak mungkin. Akhirnya perasaan Cinta hanya menggantung. Berbuat ini salah, berbuat itu juga salah.

Pikiran senang, ragu, takut dan merasa benci pun bercampur jadi satu. Dia tak dapat membedakan mana perasaan senang dan benci, ragu dan takut. Hingga akhirnya terdengarlah suara adzan subuh yang mendayu-dayu di telinga Cinta untuk segera melaksanakan sholat subuh. Suara yang merayap ditengah semua orang masih terlelap tidur, asyik dengan mimpinya sendiri-sendiri.

Satu bulan ini Cinta dan Zul sering bertemu sebab harus belajar kelompok untuk menghadapi olimpiade di Universitas Padjajaran pada akhir bulan Juni mendatang. Perasaan-perasaan yang lama terpendam kini muncul kembali bak retorika politik dalam kampanye partai politik. Padahal cinta dan politik tidak bisa menyatukan hati. Perasaan semakin perhatian, saling mengisi, canda tawa, dan saling memberika curahan hati tak pelak dari itu semua.

Cinta merasakan bahwa Zul adalah sosok yang tepat baginya karena selama ini tak ada seorang sahabat bahkan jarang seorang teman perempuan Cinta yang bisa mengerti perasaan dan pola pikir Cinta. Zul berbeda dengan cowok yang dikenalnya. Bahkan lebih dari seorang teman cewek yang terkenal halus perasaannya. Tapi apa daya. Semua itu hanya perasaan Cinta. Tak bisa dibentuk dengan kata, diukir dengan tingkah, dan hanyalah sebuah keberanian yang terkurung dalang ketakutan. Percuma saja.

Acapkali setiap akhir pekan ada-ada saja yang selalu diperbuat Zul terhadap Cinta. Mulai dari traktir mie ayam di depan Kampus bersama teman-teman Cinta sampai dengan nonton bareng di bioskop. Berbagai goyangan kata-kata pun selalu melekat dari teman-teman mereka dan menjuluki keduanya dengan “pacaran”. Namun julukan itu selalu disikapi dengan perasaan santai dan seolah mereka ingin mengerjai kepada teman-teman Zul dan Cinta bahwa keduanya mengatakan ‘ya, kami pacaran’. Padahal sebenarnya mereka tidak pacaran. Hanya kedekatan yang terlalu seringlah membuat mereka dijuluki seperti itu.

Zul saja tak pernah mengungkit perasaan sayang pada Cinta ketika curhat atau sedang bercanda sekalipun. Sedangkan Cinta hanya bisa memendam perasaan itu kepada Zul setengah hati. Terpendam entah sampai kapan dan bagaimana caranya diungkapkan pun belum bisa.

Pacaran yang melekat pada Zul dan Cinta sudah tersebar dari teman-teman terdekat mereka berdua hingga tukang mie ayam yang sering didatangi Zul, Cinta dan teman-temannya.

“Sudahlah kalian cocok kok, jadi mau kapan nih nyebar undangan. Hiks.” Kata Tukang mie ayam.
“Iya nih, pantes kok’, kata Ufi, teman Zul.

Zul dan Cinta hanya saling melempar senyum. Batin mereka mengatakan “kena kalian, kita kerjain.”

Rasa yang sudah membuncah Cinta terhadap Zul terhalang hijab yang sangat terjal. Pertunangan Zul dengan gadis di kampungnya. Sepertinya mereka akan cepat menikah kelak setelah lulus karena kedua keluarga itu sudah bersepakat. Ibu Zul sudah tidak sabar lagi ingin memiliki cucu pertamanya. Sedangkan dari pihak tunangannya Zul, ayah dan ibu gadis yang bernama Zahra itu ingin cepat menikahkan putrinya agar anak bungsunya lekas mengikuti langkah kakak-kakaknya yang sudah terlebih dahulu menikah.

Cinta tak mengerti akan berbuat apa terhadap perasaannya yang benar-benar membuatnya bingung. Kedekatan yang sangat ambigu untuk diteruskan. Puncaknya ketika sekian hari yang lalu Zul, Cinta dan teman-temannya sedang berjalan di mall daerah Pondok Indah. Ketika itu Zul berhenti di depan sebuah toko boneka. Dan akhirnya masuk juga Zul ke dalam toko boneka itu. Teman-temannya pun menyindir bahwa boneka itu akan diberikan pada Cinta. Betapa malu Cinta saat itu. Wajah yang memerah, langkah yang tak jelas dan salah tingkah.

“Ini buat adikku di kampung,” kata Zul sambil menunjukkan boneka berbentuk hati kepada teman-temannya.
“Buat Cinta mana Zul, Ciye…” kata teman-temannya.
Cinta hanya menunduk. Kali ini senyum yang dipasangnya benar-benar menunjukkan hatinya. Senyum palsu yang dipaksakan. Sungguh tersayat hati Cinta saat itu. Betapa sakit.

Cinta sudah tahu yang dimaksud adik oleh Zul adalah Zahra yang merupakan tunangannya. Hadiah itu sekaligus akan diberikan seminggu lagi saat Zahra ulang tahun. Semua itu diketahuinya dari curhat Zul tentang pribadi dan keluarganya kepada Cinta.

“Tapi ah kenapa aku berharap terlalu banyak”, batinnya dalam hati.
“Mencintaimu tak harus memiliki tubuhmu, hanya saja aku merasa senang selalu berada di dekatmu.”

“Dilema, aku dilema. Perasaan ini benar-benar mengurungku dalam kesedihan. Benar-benar dunia yang luas terasa sempit dan mengapit kedua lenganku dalam ruang 2 x 1 meter. Hoho, aku tak ingin melepasmu, tapi aku tak mungkin selalu bersamamu hingga ujung waktu”

Ingin menitikkan air mata percuma saja. Air mata Cinta sudah membatu dengan senyum palsunya. Perasaan itu telah membekukan air mata seolah menjadi kerikil tajam yang menancap sungguh dalam jiwanya. Tak kan bisa dilepas dan terlepas.

Sejak kejadian itu Cinta berpikir tak ada gunanya mengharap seseorang yang sudah dimiliki orang lain alias bertunangan. Akan melanggar norma agama jika dia terus menggoda lelaki punya orang walaupun secara resmi belum menikah.

Ditanamkan perasaan tidak memiliki terhadap Zul ke dalam hatinya dalam-dalam. Dipasangnya pikiran dalam otaknya bahwa selama ini hubungan dengan Zul hanyalah sebagai teman. Namun lebih dari seorang teman dekat dan bukan pacar.

Sepotong kata dari diary yang ditulis Cinta selama ini,
Cinta hanya sekedar boneka
Cinta terlalu bodoh mencintai seorang pria berpunya
Cinta hanyalah perasaan yang terkekang
Cinta sejati hanya ada dalam diri kita
Cinta kepada dzat pemilik cinta

Cinta, apa dayamu mengurungku
Cinta tak berbatas waktu
Cinta itu harusnya tak seperti aku
Cinta ini hanya bisa membelenggu
Cinta, lebih baik kau tiada saja

This entry was posted in Kisah Cintaku. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>