“Bersatulah Para Koruptor Indonesia”

“Bersatulah Para Koruptor Indonesia…!”
Begitulah seharusnya bangsa ini meneriakkan yel-yel kebanggaan pembangkit jiwa. Sebuah kalimat yang mampu menggugah kembali masa-masa kejayaan bangsa ini di masa lampau. Hingga memunculkan euphoria Indonesia bangkit dan semangat mensejajarkan bangsa ini dengan bangsa lain yang lebih maju.

Korupsi memang menjadi salah satu momok penghambat majunya idealisme kesadaran memajukan bangsa. Di tengah peliknya isu-isu tentang pemberantasan korupsi, negeri ini seolah dikejutkan oleh tiga pendekar hukum yang masih sakit dilanjutkan oleh lingkaran setan bank century. Tiga pendekar hukum yakni Polri, Kejaksaan dan KPK seolah hanya sibuk mengurusi rumah tangganya sendiri tanpa berpikir kasus century yang terkatung-katung. Kondisi seperti inilah yang menjadi celah para koruptor untuk bersatu padu membela hak-haknya dengan mengelabui keadilan.

Century dan kasus tiga pendekar hukum merupakan salah satu realita hukum negara ini yang kebetulan memang muncul ke permukaan. Masih banyak kasus mafia keadilan yang belum tersentuh oleh peranan media. Dan kemungkinan besar tak terhitung jumlahnya jika dimulai dari kasus hukum dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Dan kita tak perlu geleng kepala karena hal ini sudah menjadi berita yang biasa dan bahkan sudah berubah menjadi kebiasaan.

Kondisi hukum bangsa ini sedang morat-marit. Tak pelak koruptor bersorak gembira di belakang panggung menyaksikan drama penegak hukum yang saling tuduh dan lempar masalah. Dan inilah yang membandingkan manusia pintar yang mengelabui dengan mengadu domba tiga penegak hukum. Berhasil, penghasutan yang mereka buat.

Sudah saatnya dengan keadaan ini lembaga independen seperti KPK tidak boleh diam. Mati apalagi. Memang benar kondisi ketiga pendekar hukum secara eksplisit ingin melemahkan peran utama dari KPK dalam membarantas korupsi. Korupsi bangsa ini yang sudah menyusup ke aliran darah dan dihembuskan menjadi karbondioksida. Artinya korupsi sudah menjadi bagian sehari-hari dalam lingkungan orang-orang Indonesia. Dan mata rantai pemberantasan korupsi itulah yang ingin dilemahkan oleh bersatunya para koruptor.

KPK tak boleh mati apalagi pergi meninggalkan kehidupan bangsa ini. Kita tak bisa membayangkan jika KPK tak ada lagi. Sel-sel pikiran korupsi yang masih hidup sejak zaman orde baru tumbuh lagi. Yang dikhawatirkan adalah jika sel itu menular kepada orang-orang di sekitarnya. Dan bangsa ini menjadi bangsa yang penuh dengan surga koruptor.

Oleh karena itu dengan adanya moment yang pas yaitu bersatunya koruptor Indonesia dalam menyikapi kondisi ketiga penegak hukum saat ini, KPK harus bisa mementaskan diri dari masalah lingkaran setan yang dibuat koruptor. KPK harus bangkit seperti layaknya kehidupan Indonesia yang ingin bangkit.
Jika KPK mau bangkit dengan cepat dan memperlihatkan taringnya kembali dalam menangani masalah korupsi, maka koruptor yang telah bersatu itu tinggal menciduk dalam satu wadah. Toh koruptor itu sudah bersatu, sudah berkumpul. Tinggal melakukan satu perbuatan maka akan banyak koruptor yang terjaring. Biarkan saja para pimpinan mereka berteriak ”Bersatulah Para Koruptor Indonesia!”, yang penting KPK harus tetap hidup.

Kalau tak ingin mendengar dan melihat isu-isu bangsa ini tentang busung lapar, gizi buruk, dan pendidikan tak layak maka seharusnya tanpa ada komando KPK tetap harus ada demi penderitaan jutaan rakyat. Biar saja koruptor itu koar-koar dengan ye-yelnya ”Bersatulah Para Koruptor Indonesia!” Coba saja kalau berani. Jika tak mau ditangkapi KPK saat sudah sembuh nanti.

Tangerang, 30 Nopember 2009
“Indonesia Bangkit, Lawan Korupsi”

This entry was posted in Sentuhan Politik and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>