Manuver Tentang Etika Berpolitik

Pertarungan antar capres di negeri ini mulai memasuki babak baru. Setiap capres berlomba-lomba untuk menjaring simpatisan sebanyak-banyaknya demi memenangkan pemilihan presiden 8 Juli nanti. Pernyataan bernada kampanye selalu muncul hampir setiap hari di media cetak maupun elektronik. Pemaparan visi-misi dan janji politik seolah tak pernah absen dari halaman demi halaman media nasional.


Namun kalau kita perhatikan secara seksama ada perbedaan yang sangat mencolok bila dibandingkan dengan pilpres sebelumnya. Setiap capres saling mengeluarkan kritik yang tajam terhadap capres lainnya. Mengusut segala kekurangan lawan dan memamerkan apa yang menjadi kelebihannya. Ada capres yang ofensif dan ada pula yang defensif dari serangan-serangan kritik tajam. Etika berpolitik saling serang antar capres pun tak terelakkan lagi.
Manuver-manuver berpolitik para politisi di negeri ini sudah jauh dari etika. Etika politik sebagai bangsa timur seolah mulai pudar karena sistem politik kita hampir mirip dengan pilpres Amerika Serikat setengah tahun lalu ketika Barrack Obama berhadapan dengan Mc. Cain. Politik saling serang yang menelanjangi kandidat tertentu kini menjadi sebuah tren dalam perpolitikan Indonesia. Mesin-mesin politik capres pun ikut-ikutan dengan tren manuver politik saling serang yang kurang memerhatikan etika. Hal ini disebabkan setiap capres hanya berpikir pragmatis yaitu bagaimana hasil akhir dari kampenye bisa memenangkan pemilihan presidan tahun ini.
Sebagai seorang politisi yang menjadi figur masyarakat dan menjadi bulan-bulanan media setiap hari, seharusnya para capres kita memberikan teladan berupa tontonan dan tuntunan yang baik kepada rakyat. Boleh saling mengklaim keberhasilan-keberhasilan yang dicapai selama ini karena itu adalah sebuah prestasi. Namun pernyataan tentang klaim itu harus disampaikan dengan cara yang santun dan sesuai etika budaya timur. Politik saling serang yang menjadi budaya capres beberapa bulan terakhir ini juga harus dibungkus dengan etika politik. Saling kritik tidak apa-apa asalkan tidak saling menghina antar capres. Justru berawal dari kritikan itulah para capres bisa mengenali diri dan memperbaiki segala kekurangan jika kelak menjadi presiden. Dan hal ini akan lebih bermakna andaikan istilah kritik saling serang diubah menjadi kritik yang konstruktif antar capres.
Membangun budaya politik yang beretika tidaklah mudah namun bisa dilakukan mulai sekarang oleh para capres yang akan bertarung dalam pilpres nanti. Manuver politik yang selama ini menjadi senjata kampanye dapat dimanfaatkan untuk mendidik rakyat supaya lebih mengerti tentang berpolitik sekaligus mengajarkan tentang etika. Peran para capres saat ini sangat dominan dalam mengubah pola pikir rakyat karena setiap hari figur capres menjadi deadline yang menarik untuk dibahas di media saat menjelang pemilu presiden. Inilah saatnya kita membangun jati diri bangsa sesuai dengan etika bangsa timur dan proses berpolitik yang konstruktif terhadap kondisi bangsa ini.

by : ochidusyifer

This entry was posted in Sentuhan Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Manuver Tentang Etika Berpolitik

  1. ocha says:

    Hai, artikel bagus banget.. Moga jadi pengamat ekonomi dan politik beneran ya,,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>